LELAKI GAGAH

Cerpen

LELAKI GAGAH


Akmal Nasery Basral


SENIN pagi tak selalu menyenangkan. Apalagi jika dimulai dengan sebuah presentasi oleh direktur utama, maksudku sebuah pengarahan, ah, tepatnya lagi: kemarahan yang menyembur-nyembur seperti lumpur panas di Sidoarjo. Ia kurang gembira dengan kinerja departemen pemasaran kantorku selama tiga bulan terakhir. Dosa terbesar tentu saja ditanggung oleh sang manajer: aku.

Tiga bulan ini konsentrasiku memang terpecah karena harus memikirkan acara reuni 15 tahun angkatanku di sekolah menengah atas dulu. Sebagai ketua seksi dana, aku ingin reuni itu berjalan lancar. Kebutuhan dana sekitar Rp 50 juta itu awalnya berjalan seret, tapi untunglah tertutupi menjelang hari-H.

Suara direktur utama kembali meledak-ledak seperti mercon di malam takbiran. Aku tak bisa menunduk seperti yang lain, karena hampir setiap kata yang meluncur dari mulutnya pasti terselip namaku. Tak ada jalan lain. Untuk mengurangi efek murka yang terpancar di wajahnya aku harus melihatnya dengan cara berbeda. Kubayangkan wajah direkturku seperti Bob Geldof yang sedang berteriak histeris: tell me why I don't like Monday, tell me why I don't like ...

Telepon selulerku di atas meja bergetar. Astaga, aku belum sempat mematikannya. Hal sepele seperti ini pasti membuat direkturku tambah murka. Ia sudah ribuan kali menyatakan ponsel harus off setiap rapat berlangsung. Tapi kali ini tak terdengar amarah dari ujung seberang. Direktur utama memberikan isyarat lewat matanya seakan-akan aku diizinkan untuk membaca pesan masuk. Ia berdiri sembari merapikan jas Armaninya. "Aku tak ingin angka-angka ini muncul lagi tiga bulan ke depan, Pak Alex." Katanya sembari berjalan keluar ruangan tanpa menunggu jawabanku. Peserta rapat membubarkan diri dengan cepat.

Aku membaca SMS: Hai Alex, ramai sekali reuni kemarin ya? Aku senang acara sukses. Sedang sibuk apa sekarang?

Aku tak melihat nama pengirim muncul di layar teleponku, kecuali sederet nomor yang belum kukenal. Tapi melihat pesannya, pastilah ia salah seorang dari 400 alumni yang hadir kemarin. Maka kubalas: Ya, sukses krn alumni aktif. Btw, nmr ini blm ada di memory sy. Blh tahu ini siapa?

Jeda sebentar sebelum jawaban masuk: Pengagummu sejak SMA. Berapa anakmu sekarang, lelaki gagah?

Jawaban yang tak kusangka, tapi kutanggapi juga: Anak 1, kmrn sy bawa. Kini aku penasaran seperti apa jawabannya. Tak lebih dari 5 detik penantianku: O ya? Yang kuperhatikan kemarin cuma ayahnya. Boleh 'kan?

Aku putuskan untuk tak menanggapi lebih lanjut. Akan kutanyakan pada salah seorang teman tentang nomor misterius ini.

~

REUNI yang dirancang tiga bulan itu berlangsung meriah. Aku mengajak anak tunggalku Keanu yang berusia 5 tahun, karena istriku sedang di luar kota untuk sebuah perjalanan dinas.

Di halaman sekolah yang nyaris sudah tak kukenali, wajah-wajah lama bermunculan seperti menyelinap keluar dari album kenangan yang kusam berdebu. Ada Felisha yang dulu kukagumi dari jauh, kini masih menyajikan senyum manis yang sama kendati tubuhnya melebar dua kali lebih besar. Lalu Yvonne, Margi, April, Renny, Dyas, Nissa, Pingkan, Evy, Lusi, untuk menyebut beberapa nama yang wajah mereka pernah berpendar di lorong-lorong ingatanku. Belum lagi anggota tim basket di mana aku dulu pernah bergabung: Jonas, Bongkeng, Said, Peter, Dito, dan Pak Rozak, guru olahraga yang masih terlihat gagah meski kini rambutnya dibiarkan memutih di kedua sisi.

Setiap peserta alumni memakai name tag sehingga memudahkan kami untuk kembali ke masa silam. Topik obrolan melompat-lompat, dan semua saling menimpali. Kelompok-kelompok kecil tersebar di beberapa bagian, seperti yang sedang kuhadapi di depan kantor kepala sekolah.

"Kamu ingat nggak Don, waktu penerimaan anak baru yang sempat pingsan di Gunung Salak itu?"

"Evelyn bukan Met?"

"Bukan, yang sebelumnya lho? Aduh masak sih nggak ada yang ingat?" Rosana menggaruk-garuk rambutnya yang tetap cepak sampai sekarang. Rupanya tetap tomboi dia. "Ingat nggak, Alexku yang ganteng?" Ia mengerling ke arahku. Aku menjawab ragu. "Vita?"

"Bukan. Ayu." Seseorang menimpali.

"Bukan, bukan Ayu. Itu lho, yang agak bule dan waktu itu baru datang dari Kanada." Sebuah suara sopran terdengar.

"Gue ingat, namanya kayak nama Jawa gitu. Hmm apa ya?"

"Wulan!" Si suara sopran menyela seperti mendapat ilham dari langit. Aku lihat name tag di dadanya: Rory. Aha, manis sekali dia sekarang!

"Yoi, Wulan Guritno." Sebuah suara laki-laki yang terdengar berat terdengar.

"Huuu... ngaco." Koor itu tercipta lagi, mencemooh Andre si pemilik suara bariton yang memamerkan seringai tupai kekenyangan.

"Nawang Wulan," kali ini Rosana yang bicara. "Gue ingat, waktu itu sesuai tradisi, setiap anak pencinta alam harus ikut inisiasi minum air di sepatu butut yang diludahi beramai-ramai oleh anggota lain."

"Hiiiih... masak sih kayak begitu syaratnya?" April yang berwajah lembut terlihat bergidik. Aku tertawa kecil melihat ekspresinya yang tetap sebening Winona Ryder. Desir yang dulu kerap kurasakan ketika menatap April kali ini kembali meski lebih halus.

"Betul Pril. Ketika sepatu yang penuh ludah itu sampai di depan Wulan..."

"Ah, sudah dong. Jijik ah!" Sebuah suara lembut lain menginterupsi. Rosana mengabaikan keberatan itu.

"... begitu sampai di tangannya, Wulan langsung muntah dan semaput. Butuh dua jam sampai dia kembali benar-benar siuman, dan minta turun dari Gunung Salak saat itu juga."

Begitulah. Aku berpindah-pindah dari satu kelompok ke kelompok lain, bertukar salam menanyakan kabar, tempat bekerja sekarang, dan pertanyaan favorit: jumlah anak sekarang. Sebagian besar kawan-kawanku sudah menikah, bahkan ada yang anaknya sudah masuk SMP! Tapi tak sedikit pula yang masih lajang.

Tiba-tiba dari arah panggung terdengar suara yang tak asing lagi bagi kami. "Untuk seluruh alumni dan para guru yang berbahagia hari ini saya akan bawakan sebuah lagu yang akan mengingatkan pada era 90-an. Sweet Child O' Mine dari Guns 'N' Roses."

Bongkeng memutar-mutar mikrofon ketika intro lagu itu dimainkan, dan mulai menggoyang badannya mengikuti cara Axl Rose bernyanyi. Kontan saja lapangan itu seakan meledak dengan tepuk riah. Ah ya, lupa kusebutkan dari empat ratusan alumni di angkatanku itu hanya satu orang yang benar-benar menjadi populer dan dikenal secara nasional. Orang itu adalah Bongkeng yang kini menjadi salah satu penyanyi papan atas di Indonesia. Sejak SMA, Bongkeng terlihat profesional dalam menaklukkan panggung, seperti juga ia piawai di lapangan basket. Di antara penonton yang ikut menyanyi bersama, kurasakan Pingkan merapatkan tubuhnya padaku. Rambutnya wangi sekali. Ia mengangkat wajah melihatku. Matanya berbinar aneh. Aku tersenyum samar, mencoba mengurangi debar.

Selepas Bongkeng tampil acara mengalir dengan cepat sampai akhirnya ditutup dengan pengumpulan dana bagi pengembangan perpustakaan sekolah. Reuni itu meninggalkan jejak-jejak kebahagiaan yang tercetak di setiap wajah peserta.

~

AKU sedang melakukan review penjualan yang membuat bosku marah besar tadi pagi. Malam hampir sampai puncaknya di luar sana. Keanu sudah lama tidur. Ponselku bergetar, pasti dari istriku yang menanyakan kondisi Keanu hari ini. Aku keliru. Yang terpampang adalah nomor asing itu lagi dengan pesan: Selamat istirahat lelaki gagah. Senang bisa melihatmu dari dekat lagi. Pikiranku kembali berputar, menebak-nebak siapakah sang pengirim sebenarnya?

April atau Dyas? Dari pertemuan kemarin, aku merasakan pendar mata mereka yang gembira saat berbicara denganku. Tapi bisa juga Yvonne.

Tapi mana mungkin Yvonne? Ia kemarin juga datang membawa dua anaknya. Dulu aku memang sempat dekat dengannya ketika ia tertarik untuk bergabung dengan tim basket. Tapi kami tak pernah benar-benar pacaran. Atau barangkali Pingkan? Aku teringat lagi tatapan matanya yang seolah ingin menyampaikan sesuatu. Ah, bisa juga Rosana! Bukankah kemarin ia menyebut 'Alexku yang ganteng'?

Sebetulnya bisa saja aku menelepon balik nomor pengirim SMS ini. Tapi rasanya terlalu mudah. Aku memutuskan untuk sedikit bermain-main. Tak ada ruginya untuk sebuah masa silam yang sudah tenggelam. Maka kuketik: Have a nice sleep too, sweetie. Big hug. Lama tak ada balasan, sampai aku tertidur.

Esok paginya aku melihat dua pesan di inbox. Yang pertama dikirimkan semalam, sekitar 30 menit setelah aku tertidur: Thx sudah balas SMS-ku. Semoga setelah ini kamu nggak terganggu kalau aku sering kirim SMS. Pesan kedua masuk tadi pagi, ketika aku sedang mandi: Pagi, lelaki gagah. Semoga harimu indah sampai malam nanti. Penggemarmu.

Sekarang aku khawatir. Siapa pun perempuan yang mengirimkan SMS ini, ia tak menyembunyikan lagi perasaan yang sesungguhnya kepadaku. Maka aku diamkan saja pesannya tanpa balasan. Sepanjang siang itu, tak ada lagi SMS darinya, kecuali saat malam tiba dan ia mengirimkan pesan seperti malam kemarin: Lelaki gagah apa kabar? Hari ini konsentrasiku agak kacau. Aku selalu ingat kamu.

Pagi datang dan pesan misterius itu kembali terpampang: Kok SMS-ku kemarin nggak dijawab? Kamu marah ya karena aku menyembunyikan identitas? Jangan khawatir, aku tak akan merebutmu dari istrimu yang beruntung. Aku cuma menyampaikan perasaan yang tertunda 15 tahun, lelaki gagah.

Begitulah. Selama beberapa hari, pagi dan malam, kotak pesan di ponselku dipenuhi dengan berbagai ucapan lembut. Dan aku semakin khawatir. Besok istriku pulang. Jika ia menemukan pesan romantis seperti itu di ponselku, keadaan bisa runyam. Perang Dunia III bisa pecah hanya karena sebuah kesalahpahaman yang lebih konyol dari terbunuhnya Pangeran Franz Ferdinand yang memicu pecahnya Perang Dunia I.

Maka kuputuskan untuk bertemu langsung dengannya yang menyelesaikan soal kekaguman masa silam ini baik- baik. Aku kirimkan pesan: Bisakah kita ketemu se- sudah jam kerja hari ini? Kita harus bicarakan hal ini dengan tuntas. Lalu kutambahkan nama sebuah kafe internasional di sebuah mall sebagai tempat bertemu. Satu jam tak ada balasan, dua jam, lalu tiga. Sekitar 30 menit menjelang bubar kantor, sebuah pesan yang kutunggu masuk. Pendek saja: OK, lelaki gagah.

Ketika sampai di depan kafe, suasana sudah ramai. Aku mencari-cari wajah yang bisa kukenal dari kerumunan itu. April? Dyas? Yvonne? Pingkan? Rosana? Jangan-jangan Nissa? Aku lihat dua buah kursi kosong di salah satu sudut. Sempurna. Aku bergegas ke tempat itu. Dari sana aku bisa dengan mudah memantau siapa yang datang. Mataku lalu berkelana dari meja ke meja. Tak ada yang kukenal.

Tunggu dulu! Di salah satu meja aku merasa kenal dengan tubuh yang membelakangiku. Aku perhatikan tiga lelaki lain yang duduk di meja itu, semua berambut gondrong, rocker dari kelompok Kingdom of Sound. Aku bangkit menuju meja itu dan menepuk bahu seseorang yang membelakangiku. "Bongkeng?"

Bongkeng terkejut ketika memutar badannya melihatku. "Alex!" Matanya menyapu seisi ruangan. "Wow, sama siapa, man?"

"Lagi nunggu orang," jawabku pendek. "Lagi nggak tur?"

"Rencananya baru jalan besok. O ya kenalin nih teman-teman gue," katanya memperkenalkan teman-teman bandnya satu persatu.

Sebenarnya tanpa diperkenalkan pun aku sudah tahu nama-nama mereka. Bahkan seisi ruangan ini pun sudah tahu siapa saja mereka karena popularitas Kingdom of Sound yang sedang merajalela di berbagai tangga lagu radio dan televisi. Tapi kujabat juga tangan mereka satu per satu sambil memperkenalkan diri.

Ketika akhirnya selesai menyalami mereka, Bongkeng berbisik di telingaku. "Udah datang belum cewek lu?"

Aku melotot ke arahnya dan balas berbisik. "Gila lu! Gue udah married dan punya buntut."

"So what?" Sikap cuek Bongkeng muncul. "Gue tahulah ciri- ciri orang yang gagap selingkuh kayak lu, man?" Ia menepuk-nepuk bahuku. "Datang sendiri-sendiri buat rendezvous!" Tawanya bergelombang diikuti kawan-kawannya.

Sialan! Meski dugaannya tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak sepenuhnya salah. Bongkeng mengedipkan matanya ke arahku. "Lex, lu lihat pelan-pelan ke arah jam 2. Mereka pasti punya affair, bukan kekasih apalagi suami istri."

Aku memutar kepalaku perlahan dan memperhatikan pasangan di meja itu. Si lelaki yang kukira berusia di atas 40-an, terus mencari kesempatan untuk menyentuh tangan wanita di depannya. Api nafsu berkobar-kobar di matanya tak terkendali. Rasanya Bongkeng benar.

"Ya sudah, selamat nunggu cem-ceman lu, man," suara Bongkeng menyadarkanku. "Gue harus cabut dulu Lex!" Ia bangkit dari kursinya diikuti teman-temannya. Aku melihat ke arah kursiku yang kini sudah diisi orang lain. Akhirnya kuputuskan untuk duduk di kursi bekas Bongkeng dan kawan-kawan saja.

Di luar, temaram senja mulai membungkus kota. Pengunjung kafe datang dan pergi. Tak seorang pun yang kukenal. Di manakah pengagum rahasiaku sedang berada? Apakah ia sedang terjebak macet? Atau malah membatalkan datang karena tak ingin identitasnya terungkap? Aku menghabiskan waktu dengan membaca ulang pesan-pesannya, dan mencoba menebak-nebak siapa yang paling mungkin mengirimkan pesan-pesan seperti itu. Semakin lama aku membaca, semakin jelas tergambar wajah Pingkan di layar ponsel. Wangi tubuhnya, rambutnya, cara matanya yang redup menatapku dengan bibir separuh terbuka. Tak bisa lain, isyarat-isyarat itu terlalu kuat untuk diabaikan. Astaga! Mengapa aku bisa buta terhadap sinyal seperti itu? Gairahku seperti melambung tiba-tiba.

Aku tekan tombol call pada nomor itu. Masuk!

Inilah saatnya kebenaran akan terungkap. Suara empuk Pingkan akan segera terdengar di telingaku. Manis. Kurasakan detak jantungku semakin cepat oleh sensasi yang kurasakan sendiri. Ayo angkat, Pink! Mungkin ia tidak mendengar karena sedang sibuk memarkir mobil, atau ponselnya berada di dalam tas, atau ...

"Alex," sebuah suara terdengar di depanku. Aku mengangkat wajah. Bongkeng. Apakah ia melupakan sesuatu di meja ini? Pemantik api? Rokok?

"Ada yang kelupaan, Keng?" Aku menjawab sekilas sambil berharap di ujung sana suara lembut Pingkan segera terdengar.

"Nggak ada yang ketinggalan kok." Bongkeng dengan tenangnya duduk di depanku. "Apa kabar, lelaki gagah?"

Ponselku terlepas dari genggaman, dan berdentam keras saat menghantam lantai kafe. Berhamburan.***

Jakarta, 5 September 2006

0 komentar: